Ragam Informasi

Beranda | Ragam | Wisata | Galleri Photo | Pengaduan | Database SKPD | Buku Tamu | Kontak Kami

Limbur Raya (2003)

 

Nampak dikejauhan gunung berderet-deret menghiasi indahnya pemandangan di pagi hari, waktu itu matahari baru menampakkan diri dari peraduan malam.   Anak-anak tersenyum sambil bermain dengan riangnya, tak terasa halimun sudah menipis yang menyelubungi kawasan gunung Undama dan Gunung Panginangan Ratu.

 

Gunung Panginangan Ratu dilihat dari dusun Libaru Baras


Suara gemericik air yang mengalir dari hulu sungai Riti menuju sungai Malangkayan, nampak seorang sedang termenung diatas undukan batu yang besar mengisap sebatang cerutu memandangi pepohonan yang rindang menuju puncak gunung Panginangan Ratu.

Sungai Riti yang jernih di dusun Libaru Baras


Hari itu (Sabtu/27/9/2003), aku menginap di dusun Libaru Baras, dusun itu hanya ada 4 buah rumah dan 1 buah gereja, penghuni dusun itu adalah suku Dayak.  Rumah khas Dayak yang terbuat dari kayu menambah cantiknya pemandangan hari itu, disamping rumah terdengar desauan air sungai yang bening laksana kaca, kicauan burung tak henti-hentinya menyambut pagi itu.

Dusun Libaru Baras merupakan salah satu dusun yang ada di desa Limbur,  Dusun ini merupakan dusun terdekat dengan Ibukota Kecamatan Hampang, jarak tempuh dari Kota Hampang kurang lebih 20 Km.  Untuk mencapai Dusun tersebut dari Hampang melewati Desa Cantung Kanan (Malangkayan) kemudian singgah di dusun Gadang yang berjarak 8 Km, selanjutnya berjalan kaki atau menyewa jasa ojek mendatangi Libaru Baras sejauh 7 Km.


Terlintas pikiranku, bahwa menuju ke dusun Libaru baras suatu yang amat susah karena kita harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak, sisi kiri jalan ada jurang yang dalam.   Agar tidak terlalu capek aku sewa ojek untuk menuju dusun itu dengan tarif Rp 20 ribu.

Libaru Baras hanya dihuni 8 KK, pekerjaan mereka berburu dan bertani ladang disekitar rumah mereka. Di belakang rumah pak Ali Asmat terdapat sebuah air terjun kecil namanya air terjun Tampurawan. Begitu asrinya tak akan dilupakan.


Air Terjun Tampurawan


Kehidupan mereka sederhana dan apa adanya, yang membuatku terpana adalah setiap kali mereka ke pasar gadang untuk berbelanja atau menjual hasil hutan diantaranya madu untuk dijual disana mereka tak langsung pulang ke desanya. Mereka menikmati hiburan seperti nonton Televisi.  Bahkan sampai satu minggu hanya untuk menonton Televisi, mereka numpang di rumah-rumah sanak keluarganya.

Desa Limbur merupakan desa terluas yaitu 500,54 Km2 atau sekitar 29,71% dari luas Kecamatan Hampang 1.684,64 Km2. Desa Limbur mempunyai 8 Dusun, dusun terdekat adalah dusun Libaru Baras dan dusun Limbur (yang menjadi pusat desa Limbur).  Sedangkan dusun terjauh adalah Dusun Tuhur berbatasan dengan Pegunungan Meratus kira-kira 5 jam perjalanan sampai ke Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan.   Jumlah Penduduk Desa Limbur 683 jiwa yang apabila dihitung antara luas wilayah dengan jumlah penduduk setiap 1 km2 dihuni hanya 3 jiwa.

Betapa tertinggal dan terpencilnya desa ini, jalan satu-satu hanyalah jalan setapak.   Pintu masuk menuju Limbur melalui dusun Gadang Desa Cantung Kanan.

Begitu memprihatinkan, fasilitas yang ada hanya sebuah sekolah yang dibangun tahun 2002, gurunya pun hanya 1 orang.  Beruntung oleh Pemerintah Daerah telah direkrut penduduk setempat melalui program Diploma III PGSD untuk menempatkan guru, sehingga anak-anak Limbur dapat sekolah di desa mereka.

Sungguh melelahkan untuk mencapai pusat desa Limbur.   Hanya ada dua jalan menuju desa Limbur, yang pertama melintasi kawasan gunung Panginangan Ratu dengan jarak 5 km bila diukur dengan peta, tetapi medan yang dilewati sungguh terjal dan berbatu dengan kemiringan hampir 80% dan jalan kedua melintasi gunung Undama dan gunung Janjan dengan jarak tempuh 18 km bekas jalan logging PT. KODECO.   Sepanjang perjalanan nampak hamparan hutan Agatis menghiasi kawasan itu.   Memang sudah jadi kebiasaan mereka, untuk menuju Pasar Gadang mereka tetap menempuh jalan Gunung Panginangan Ratu menuju dusun Libaru Baras.   Mereka hanya menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam, sedangkan kita yang belum terbiasa akan mencapai waktu tempuh kurang lebih 8 jam.

Hari Minggu, aku coba menuju desa Limbur dengan berjalan menyusuri bebukitan gunung Panginangan Ratu didampingi oleh Kepala Adat, bukan main indahnya dan penat yang kurasa tak terasa hanya saja napasku tingggal satu dua.   Akhirnya sampai juga di Desa Limbur dengan memakan waktu kurang lebih 4 jam, sudah lumayan tak terasa aku tak ingin pulang  karena jalannya membuatku ngeri. Dengan menguatkan hati akupun akhirnya pulang juga pada hari Senin.

Perjalanan menuju Desa Limbur, di lembah Gunung Undama


Damai, penuh bersahaja tanpa ada hiruk pikuk seperti perkotaan, penduduknya ramah dan ada sebuah balai adat yang besar untuk melaksanakan upacara adat seperti haulan/aruh dan Babalian.   Pengalaman yang paling mengesankan adalah pada saat berjalan menuju desa limbur, setiap jalan ada lintah.  Karena tak terbiasa melihat lintah aku sering geli, begitu dibuang satu yang lain naik ke kaki seperti kebakaran jenggot aku berontak dan kepala adat yang berada disamping tersenyum melihat tingkah polahku.

 

Pada waktu diperjalanan menuju Limbur, terlihat suami isteri sedang berjalan pulang dari Dusun Gadang. Kuamati apa yang dibawa mereka, ternyata seokor kambing, uniknya kambing itu bukan dibawa seperti biasanya orang membawa kambing tetapi digendong seperti bayi. Kutanyakan pada mereka berdua, Saudara mau kemana? katanya mau ke Dusun Hulu Sampanahan.

 

Untuk mencapai Dusun Hulu Sampanahan memakan waktu kurang lebih 12 jam, jadi pagi-pagi mereka telah berangkat dari dusun mereka untuk membeli seekor kambing untuk upacara haulan ataupun babalian di dusunnya.  Suatu gambaran yang sangat memprihatikan bahwa mereka hanya membeli seekor kambing berjalan kaki menyusuri bebukitan dan hutan yang lebat serta melintasi sungai agar acara adat mereka dapat dilaksanakan.

 

Program Pemerintah Daerah yang langsung dapat dinikmati oleh penduduk desa Limbur adalah Program Gerbangdes (Gerakan Membangun Desa).  Program ini dimanfaatkan masyarakat Limbur dengan membeli Genset untuk penerangan desa mereka di malam hari.  Syukur Alhamdulillah di malam hari desa ini sudah ada listrik walaupun hanya sampai jam 10 malam.

 

Pernah kutanyakan kepada kepala Adat, bagaimana mereka membawa mesin genset tersebut sampai di desa ini? Katanya Penduduk desa ini bergotong royong memikul sebanyak 8 orang secara begantian dengan memakan waktu kurang lebih 5 Jam, diluar kebiasaan mereka yang hanya menempuh 2,5 jam tiba di desa Limbur.

 

Alangkah kagetnya aku, tetapi aku bangga ternyata walaupun terpencil mereka tetap berusaha untuk dapat merubah kehidupan mereka. Akhirnya dengan dibantu Kepala Desa dan Camat Hampang dibuat proposal untuk memberikan bantuan kepada mereka sebuah Televisi dan Antenna Parabola yang nantinya mereka tidak jauh-jauh lagi nonton TV, didesa merekapun dapat mengetahui informasi dunia luar.   Informasi ini kami kirimkan kepada Bupati sehingga beliau akhirnya dapat meluangkan waktunya untuk mengunjungi desa ini.   Akhirnya Bupati Kotabaru (7/10/2003) bersama rombongan beberapa Kepala SKPD berkesempatan mengunjungi desa ini sekaligus bersilaturrahmi dan meresmikan sekolah pertama di Desa Limbur.

Terkesan dengan kunjungan tersebut, maka Bupati mengabadikan nama desa ini menjadi nama salah satu pusat perbelanjaan di kotabaru yaitu "LIMBUR RAYA".

 

Posted by Harly (2003)

Total hits : 6542

Berita Pilihan

  • Pulau Samber Gelap
    pulau Samber Gelap (tampak bangunan Mercu Suar) Lokasi pulau dari ibukota Kabupaten Kotabaru hanya menempuh waktu 2 (dua) jam perjalanan menggunakan s...
  • Rencana Taman Kota (RTH Suryagandamana)
    Potret lokasi RTH Suryagandamana dari angkasa Mesjid Agung - Jalan Suryagandamana - Gunung Sebatung Rencana Pembangunan RTH Ruang Terbuka Hijau Jl. Su...
  • Pertemuan Triwulanan Forum CD-CSR Kabupaten Kotabaru
    Kamis (7/10) diselenggarakan Pertemuan Triwulanan CD-CSR Kabupaten Kotabaru 2011-2015 bertempat di Aula Hotel Grand Surya yang dihadiri oleh perusahaa...