Kalsel Peringkat Tujuh Ekspor Non Migas
(Berita Daerah - Kalimantan) - Krisis keuangan global pada pertengahan 2008 tidak terlalu berpengaruh pada kinerja ekspor non migas Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) yang pada 2009 masih menduduki urutan ke tujuh dari 33 provinsi di Indonesia.
"Krisis keuangan global hampir tidak mempengaruhi nilai ekspor di Kalsel yang meningkat dari 4 miliar dolar AS menjadi 5 miliar dolar AS," katanya.
Data tersebut, kata dia, berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Departemen Perdagangan yang menyebutkan kinerja ekspor Kalsel berada pada posisi ke tujuh setelah Sumatera Utara.
Tingginya nilai ekspor tersebut, kata dia, selain didukung oleh sektor pertambangan juga sektor perkebunan, terutama untuk produk crude palm oil (CPO) dan produk sawit lainnya.
Khusus ekspor CPO, kata dia, terjadi peningkatan luar biasa dibanding bidang lainnya. Pada 2008 volume ekspor CPO dan produk sawit lainnya seperti limbah atau cangkang sawit mencapai 120 ribu ton dengan nilai ekspor 96 juta dolar AS.
Sedangkan pada 2009, kata dia, volume ekspor produk kelapa sawit menjadi 579 ribu ton dengan nilai ekspor mencapai 373,8 juta dolar AS.
"Kalau hasil tambang kenaikanya tidak terlalu tinggi, yaitu dari 72 juta ton menjadi 76 juta ton," katanya.
Kendati kenaikannya tidak besar, kata dia, ekspor hasil tambang tersebut masih tetap penyumbang ekspor tertinggi Kalsel.
Pemimpin Bank Indonesia (BI) Banjarmasin, Bramudija Hadinoto, pada pertemuan tahunan perbankan dengan Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin dan pejabat Pemprov Kalsel mengatakan, saat ini sektor perkebunan di Kalsel tumbuh pesat.
Pertumbuhan sektor perkebunan tersebut, kata dia, antara lain di Kabupaten Kotabaru, Tanah Laut (Tala) dan Tanah Bumbu (Tanbu).
Dengan semakin berkembangnya sektor perkebunan itu, kata Bramudija, rencana pengembangan pelabuhan skala besar di Tanbu maupun di Tala sangat mendesak untuk direalisasikan.
Pengembangan pelabuhan skala besar di daerah tersbut, kata dia, sangat strategis terutama untuk melayani aktivitas ekonomi wilayah Kalsel bagian Selatan, Timur sampai perbatasan Kalimantan Timur.
Sedangkan pelabuhan Trisakti Banjarmasin, tambah dia, untuk melayani ekonomi wilayah Kalsel bagian Selatan dan sebagian daerah Kalimantan Tengah.
Menurut dia, ketersediaan fasilitas pelabuhan yang memadai akan mendorong efisiensi industri seiring dengan turunnya biaya transport sehingga akan membantu daya saing produk Kalsel.
Selain itu, kata dia, pengembangan infrastruktur jalan untuk mengurangi wilayah terisolir, juga penting segera dilakukan.
Pengembangan jalan tersebut antara lain, adalah pada wilayah Margasari Kabupaten Tapin menuju Marabahan Kabupaten Barito Kuala yang telah dirintis sejak 2009.
Pembangunan jalan tersebut, kata dia, akan memperpendek jalur distribusi, sehingga biaya transportasi akan menjadi lebih ekonomis.
(fb/FB/ant)
Sumber : http://beritadaerah.com/news
Total hits : 196 | Tanggal Kirim : 01-03-2010