Pisang Kepok D-15 Atasi Penyakit Layu "Darah"

Beranda | Ragam | Wisata | Galleri Photo | Pengaduan | Database SKPD | Buku Tamu | Kontak Kami

Pisang Kepok D-15 Atasi Penyakit Layu "Darah"

(Berita Daerah- Kalimantan) -Penyakit layu fusarium/layu bakteri (penyakit layu darah) yang menyerang tanaman pisang di tiga kecamatan di Kotabaru, Kalimantan Selatan, sejak beberapa waktu lalu, telah menyebabkan lebih dari 2.025 hektare (Ha) tanaman pisang gagal panen.

Akibatnya, ribuan petani di Kecamatan Pamukan Barat, Sampanahan serta Sungai Durian dan sekitarnya merugi ratusan juta rupiah.

"Mereka kini tidak lagi bersemangat untuk mengembangkan perkebunan pisang, karena masih trauma untuk menanam pisang kepok setelah gagal panen," kata Kepala Dinas Pertanian Kotabaru, H Zuhairil Anwar, MSi.

Penyakit yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum itu kini telah menyebar ke areal seluas 2.025 ha.

Untuk mencegah agar jamur Fusarium oxysporum yang mengakibatkan buah membusuk di dalam itu, petugas pertanian mengimbau para petani setempat untuk membongkar dan membakar pohon-pohon pisang yang terserang penyakit tersebut.

Berdasarkan penelitian, penyakit tersebut mulanya menyerang bagian daun luar kemudian daun bagian dalam, selanjutnya daun menjadi layu dan terputus.

Jamur tersebut kemudian menjalar ke bagian pelepah daun membelah membujur, lalu keluar pembuluh getah bewarna hitam.

Akibat serangan tersebut, buah pisang bagian dalam juga berwarna hitam yang menimbulkan aroma tidak sedap/busuk.

Hal itu membuat para pedagang/pengumpul tidak mau membeli pisang yang terserang layu fusarium, kendati dari bagian luar pisang kelihatan bagus dan normal layaknya pisang sehat.

Menurut Kabid Penunjang Pertanian, Syaiful, satu-satunya cara agar penyakit tersebut tidak menyebar ke areal yang belum terserang, petani perlu melakukan isolasi lahan dan membongkar pohon pisang yang terserang penyakit kemudian membakarnya.

"Karena hingga saat ini masih belum ada obat untuk menyembuhkan pohon pisang yang terjangkit layu fusarium," katanya.

Petani juga diimbau melakukan pemupukan tanaman pisang dengan menggunakan pupuk hijau (hayati) untuk membasmi penyakit tersebut, kendati sampai saat ini belum ada bukti pupuk itu dapat memberantas penyakit layu fusarium.

Agar mata rantai penularannya layu fusarium terputus, karena sampai saat ini belum ada jenis insektisida/fungisida yang dapat membunuh bakteri layu fusarium.

Camat Sampanahan, M Idrus, beberapa waktu lalu mengungkapkan, warganya terutama patani pisang resah.

Pasalnya, pedagang langganannya yang biasa memborong pisang hasil perkebunannya kini tidak lagi mau membeli, sehingga pisang yang sudah dipetik dari kebun itu menumpuk dan membusuk tidak laku.

"Alasannya sih pisang warga itu kena penyakit, sehingga para pedagang tidak mau membelinya, meskipun kelihatan dari kulitnya, bentuk pisang tersebut baik tetapi di dalamnya buruk," jelas Idrus.

Kepala Desa Sampanahan Hulu, Wahid menambahkan, sekitar 600 ha tanaman pisang warga kami diserang penyakit yang meyebabkan buah pisang menjadi buruk.

"Mereka meminta Dinas Pertanian segera mengantisipasi agar mencari solusi untuk memberantas penyakit tersebut, serta mencari alternatif tanaman lain yang lebih tahan dari hama penyakit," katanya.

Dengan didampingi Kasi Sarana dan Produksi Dinas Pertanian Suhardi, Syaiful menjelaskan, penyakit layu darah (bacterial blood disease DBD) merupakan salah satu kendala utama dalam pengembangan pisang di Indonesia, terutama pisang kepok.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstania Solanacearum ras II yang sangat mirip dengan bakteri yang menyebabkan penyakit Moko yang disebarkan oleh serangga di Amerika.

Sebagian besar penularan penyakit terjadi melalui pemindahan Ooze bakteri dari bunga jantan tanaman sakit ke bunga tanaman sehat.

Buah tanaman yang yang terserang penyakit tersebut, dagingnya berwarna merah kecoklatan, tidak terisi penuh dan terbentuk tidak sempurna.

Ia mengatakan, upaya pengendalian dapat dilakukan dengan pemotongan jantung (ontong) dengan segera setelah buah berbentuk dan pembungkusan buah.

Menurut Syaiful, cara tersebut kurang praktis sehingga aplikasi di lapangan masih terhambat.

Pusat kajian buah tropika, LPPM IPB sedang mengembangkan mutan kepok yang tidak berbunga jantan, dengan diskripsi umur bunga 13 bulan, tinggi tanaman 370 cm, bentuk potongan batang Globular, diameter batang 31 cm, panjang dan lebar daun 258 cm dan 90 cm.

Warna tulang daun hijau tua, warna tangkai daun hijau kemerahan, lekuk tangkai daun menutup, tipe sayap kering, bentuk jantung spherical/lanset.

Diameter dan panjang jantung 16 cm dan 45 cm, warna braktea ungu kemerahan, bentuk buah lurus, penampangan buah smoothy round, panjang dan diamter buah 14 cm dan 3,46 cm.

Warna kulit buah muda hijau muda dan warna kulit buah matang kuning tua, warna daging buah kuning tua dan tebal kulit 0,5 cm serta rasa buah sangat manis dan berpati.

Berat buah sekitar 400 gram, berat sisir sekitar 4,8-6,8 kg, berat tandan sekitar 30-34 kg, jumlah buah per sisir sekitar 12-19 biji dan jumlah sisir per tandan 12-13 sisir serta daya simpan mencapai 4 hari produksi sekitar 40 ton per ha.

Sedangkan hama/penyakit, Erionata thrax rendah, thrips rendah, Cozmopolites Sordidus tidak ada, Odiopharus sp tidak ada, FOC tidak ada, Sigatoka rendah, Moko tidak ada Virus tidak ada, Heart rot tidak ada.

Menurut dia, kelebihan pisang kepok D-15 adalah tidak terbentuknya bunga jantan, sehingga tidak tersisa ontong setelah buah terbentuk.

Dengan demikian, potensi seranggga menginfeksi tanaman melalui luka pada ontong menjadi sangat kecil dan tanaman bebas dari penyakit layu darah.

Pisang kepok D-15 dikembangkan dari plasma nutfah potensiap Indonesia oleh Dr. Ivan Buddenhagen, pusat kajian Buah Tropika LPPM IPB dan pihak lainnya.

Kelebihan lain dari pisang kepok D-15 adalah kualitas buah yang baik dan produktivitas yang tinggi.

Penggantian varietas kepok yang rentan penyakit layu darah dengan kepok D-15 diharapkan akan mengembalikan kejayaan pisang kepok dan mensejahterakan petani.

Adapun penyediaan benih pisang kepok D-15 dilakukan melalaui kultur jaringan untuk menjamin ketersediaan bibit yang sehat.

"Meski pembibitan melalui kultur jaringan, keunggulan dari pisang tanpa tongkol ini masih terjaga hingga tujuh turunan," kata Syaiful.

D-15 mulai dikembangkan di Kotabaru.

Salah satu cara untuk membangkitkan kembali gairah petani untuk berkebun pisang, pemerintah daerah mulai mengembangkan pisang kepok jenis D-15 atau tanpa tongkol di daerah eks serangan layu fusarium.

"Ribuan hektare tanaman pisang milik petani di Kecamatan Pamukan Barat, Kecamatan Sampanahan dan Kecamatan Sungai Durian rencananya akan dikembangkan pisang kepok tanpa tongkol," Syaiful.

Akibat serangan layu fusarium tersebut, petani di tiga kecamatan tersebut mulai enggan menanam pisang sehingga mengakibatkan pendapatan mereka turun drastis.

Menurut dia, pisang kepok tanpa tongkol lebih unggul dibandingkan dengan pisang kepok biasa yang ditanam petani di daerah itu.

"Berdasarkan analisa, bahwa firus fusarium lebih dominan menyerang pisang kepok biasa berawal dari tongkol. Sehingga jika tongkolnya tidak ada maka pisang tersebut aman dari serangan layu fusarium," katanya.

Ia mengatakan, saat ini pemerintah baru mengembangkan lima hektare pisang kepok tanpa tongkol yang bibitnya diperoleh dari Kalimantan Timur dan Bogor tersebut.

Setelah tanaman tersebut menghasilkan buah, maka pengembangan pisang secara besar-besaran akan dilakukan di tiga kecamatan yang terserang penyakit layu fusarium dengan mengambil anakan batang pisang.

"Saat ini lima hektare tanaman pisang tersebut dalam proses berbuah, mungkin tahun depan anak dari pisang tersebut telah dapat dikembangkan ke lahan yang lain.   Karena anakan batang pisang baru dapat dipindah setelah berbuah," katanya

 


(if/IF/ant)

Sumber : http://beritadaerah.com/news.

Total hits : 21421 | Tanggal Kirim : 12-01-2010

Berita Pilihan

  • Pulau Samber Gelap
    pulau Samber Gelap (tampak bangunan Mercu Suar) Lokasi pulau dari ibukota Kabupaten Kotabaru hanya menempuh waktu 2 (dua) jam perjalanan menggunakan s...
  • Rencana Taman Kota (RTH Suryagandamana)
    Potret lokasi RTH Suryagandamana dari angkasa Mesjid Agung - Jalan Suryagandamana - Gunung Sebatung Rencana Pembangunan RTH Ruang Terbuka Hijau Jl. Su...
  • Pertemuan Triwulanan Forum CD-CSR Kabupaten Kotabaru
    Kamis (7/10) diselenggarakan Pertemuan Triwulanan CD-CSR Kabupaten Kotabaru 2011-2015 bertempat di Aula Hotel Grand Surya yang dihadiri oleh perusahaa...